Rabu, 14 Oktober 2015

PERBANDINGAN DUA BUKU BAHASA INDONESIA



MEMBANDINGKAN BUKU BAHASA INDONESIA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) KELAS XII

NAMA           : NELFI JUNITA
NPM               : 146210342
KELAS          : 3F

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2015                                                                                                                           

MEMBANDINGKAN BUKU BAHASA INDONESIA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) KELAS XII

1.      BUKU I
A.    Identitas Buku I
1.      Judul Buku      : Bahasa Indonesia
2.      Penulis             : Seni Handayani, Tetty Nurhayati, Budhi Prastyati, dan Wildan
3.      Penerbit           : Grafindo
4.      Tahun Terbit    :  2014
5.      Tebal Buku      : 250 halaman
6.      Materi              : Mengapresiasi Pembacaan Puisi Lama, halaman 65-67

B.     Isi Buku
Pada materi belajar dalam buku ini terdapat salah satu materi yang akan saya bandingkan materinya dengan buku yang lain. Materi yang akan dibandingkan ini terdapat pada halaman 65-67 yang berjudul “Mengapresiasi Pembacaan Puisi Lama”. Kata kunci yang terdapat dalam buku ini khususnya pada materi ini yaitu, syair, pantun, bait, baris, lafal, intonasi, ekspresi.

Isi materi yang dibahas dalam buku ini adalah sebagai berikut;
a)      Pengertian puisi lama merupakan puisi peninggalan Sastra Melayu Lama. Puisi lama terdiri atas, puisi asli, dan puisi pengaruh asing. Pantun adalah satu contoh puisi asli masyarakat Melayu, sedangkan syair adalah contoh puisi lama dengan pengaruh asing yaitu, bahasa Arab.
b)      Karakteristik puisi lama yaitu, (1) sangat terikat pada aturan-aturan yang mencakup jumlah baris dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap baris, irama, dan sajak (pengulangan bunyi), (2) peninggalan sastra Melayu lama.
c)      Terdapat pula karakterstik pantun yang disajikan di dalam buku ini.
d)     Terdapat soal latihan untuk lebih memahami maksud dari puisi lama, akan tetapi contoh yang diberikan hanya beberapa pantun saja. Lalu, siswa disuruh mendengarkan dengan seksama pantun yang dibacakan oleh temannya. Dan beberapa soal latihan lainnya yang masih berhubungan dengan materi dalam buku ini.

C.    Keunggulan Buku
Keunggulan yang terdapat di dalam buku ini yaitu, pembahasan yang disampaikan mengenai puisi lama sangat singkat, padat, dan jelas. Isi materinya pun mudah dipahami, bahasa baku yang digunakan dapat dimengerti siswa, terdapat salah satu di dalam buku ini di pojok kiri buku mengenai sedikit informasi yang sangat erat hubungannya mengenai materi yang disampaikan dalam buku ini, dan soal latihan dengan contoh yang dimana siswa berperan secara langsung atau ikut serta dalam memahami pembacaan puisi lama tersebut.

D.    Kelemahan Buku
Kelemahan yang terdapat di dalam materi ini yaitu, pembahasan materi yang disampaikan tidak secara rinci walaupun jelas, terlalu sederhana, hanya menggunakan satu contoh dalam memahami materi ini dan contohnya pun hanya pantun. Di dalam kata kunci terdapat syair dan syair tidak ada dalam pembahasan buku ini, sehingga materinya pun kurang jelas dalam memberikan penjelasan mengenai puisi lama.

2.      BUKU II
A.    Identitas Buku II
1.      Judul Buku      : Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku
2.      Penulis             : Atep Tatang, Maman, dkk
3.      Penerbit           : Tiga Serangkai
4.      Tahun Terbit    : 2012
5.      Tebal Buku      : 292 halaman
6.      Materi              : Menanggapi Pembacaan Puisi Lama, halaman 6-12

B.     Isi Buku
Isi buku materi yang disampaikan di dalam buku ini mengenai puisi lama. Dengan judul “Menanggapi Pembacaan Puisi Lama”, halaman 6-12. Puisi Indonesia lama dipengaruhi oleh puisi Melayu Klasik yang mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan orang atau masyarakat pada zaman itu. Banyaknya bentuk puisi lama seperti, mantra, seloka, gurindam, peribahasa atau peribahasa berirama, pantun dan syair. Namun bentuk yang paling banyak adalah pantun dan syair.

Di dalam buku ini menyampaikan pengertian bentuk-bentuk dari puisi lama, menyampaikan contoh dari bentuk puisi lama, serta beberapa soal latihan yang terdapat di dalam buku ini. Kata kunci yang terdapat di dalam buku ini yaitu, puisi lama, mantra, seloka, gurindam, peribahasa berirama, pantun, syair, lafal, intonasi, ekspresi, dan gesture.

C.    Keunggulan Buku
Keunggulan buku ini materi yang disampaikan sangat jelas dan terperinci, pengertian dari setiap bentuk dari puisi lama, contoh yang diberikan pun sangat jelas dan mudah dipahami oleh siswa. Bahasa yang digunakan dalam buku isi mudah dipahami dan dimengerti. Materi yang disampaikan di dalam buku ini sangat jelas dan terperinci. Beberapa informasi yang disampaikan di dalam buku ini pun jelas dan mudah dipahami oleh siswa.

D.    Kelemahan Buku
Kelemahan buku ini terdapat pada bentuk soal yang diberikan. Bentuk soal yang diberikan di dalam buku ini sulit dipahami karena berbentuk kolom dan baris dan soal yang diberikan pun memakai rumus-rumus untuk menentukan nilai yang akan dihasilkan dalam menanggapi pembacaan puisi lama.

3.      PERBANDINGAN DARI DUA BUKU YANG BERBEDA
Berdasarkan resensi yang telah dibuat pada identitas buku I dan buku II tersebut dapat dibandingkan bahwa kedua buku tersebut memilki perbedaan yang cukup jauh. Adapun beberapa persamaan dan perbedaan dari kedua buku tersebut adalah sebagai berikut;
1)      Persamaan
a.       Membahas pembacaan puisi lama.
b.      Membahasa pengertian puisi lama.
c.       Sejarah puisi lama secara singkat.
d.      Bentuk-bentuk dari puisi lama.
2)      Perbedaan
a.       Buku I tidak membahas secara rinci, sedangkan buku II membahas secara rinci.
b.      Buku I hanya membahas pantun saja dan contoh pantun, sedangkan buku II membahas bentuk-bentuk puisi lama secara rinci beserta contohnya.
c.       Soal pada buku I mudah dipahami, sedangkan buku II sulit dipahami.
d.      Bahasa pada buku I lebih mudah untuk dipahami, sedangkan buku II mudah dipahami tetapi ada beberapa kata yang sulit dipahami.

Berdasarkan persamaan dan perbedaan dari duah buku di atas dapat kita ketahui bahwa buku II lebih bagus dan lebih baik digunakan dalam proses belajar dan pembelajaran, sebab buku II memiliki pembahasan yang lebih rinci dan jelas, sehingga para siswa dapat memahami puisi lama secara baik. Siswa pun dapat memperdalam bentuk-bentuk dari puisi lama tidak hanya pantun saja yang dapat dipahami siswa, tetapi juga bentuk-bentuk lainnya dari puisi lama. Akan tetapi, bukan berarti buku I tidak bagus digunakan untuk lebih mendalami sebuah puisi lama selayaknya kita juga harus paham bentuk lainnya dari puisi lama tidak hanya pantun saja. Serta materi yang disampaikan oleh buku II lebih lengkap dibandingkan buku I. Sedangkan buku  I tidak secara lengkap menyampaikan pembahasan materi mengenai pembacaan puisi lama.

4.      SIMPULAN
Bahwa buku II lebih baik digunakan dalam proses belajar dan pembelajaran karena lebih rinci dan jelas dibandingkan buku I yang tidak rinci dan hanya membahas pantun saja.

5.      SARAN
Untuk lebih memahami suatu pembacaan puisi lama sebaiknya dan seharusnya menggunakan dua buah buku atau lebih sehingga kita dapat lebih dalam lagi ilmu dan wawasan kita mengenai pembacaan puisi lama.

Rabu, 30 September 2015

morfologi



MORFOLOGI
NAMA : NELFI JUNITA
NPM : 146210342
KELAS : 3 / F
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU                                                                                
SOAL MORFOLOGI
1.              Apakah yang dimaksud dengan bentuk linguistik ( Muslich ) dan satuan gramatik ( Ramlan) ? Beri penjelasan dan contoh!
2.              Berikan defenisi morfem (morpheme) menurut para ahli yang anda baca!
3.              Muslich 2008 dan Chaer 2008 membagi morfem ke dalam beberapa jenis, apa saja jenis morfem yang dimaksud? Beri contoh dan penjelasannya!
4.              Proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia terdiri dari afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Berikan contoh relevan!

JAWABAN
1.      Bentuk linguistik adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk bahasa secara umum.
Satuan gramatik adalah satuan gramatikal yang tidak terdiri dari satuan yang lebih kecil lagi, seperti, ber-, sepeda, ke-, luar. Disebut bentuk tunggal.
2.     a) Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya relatif stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil; misalnya {ter-}, {di-}, {pensil} dan sebagainya (Kridalaksana).
b) Morfem ialah satuan gramatik yang paling kecil yang tidak mempunyai satuan lain selain unsurnya (Ramlan).
3.     a) Morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas adalah morfem yang tanpa keterkaitannya dengan morfem lain dapat langsung digunakan dalam penuturan. Misalnya, morfem pulang, merah, pergi, makan, minum, jatuh, lihat, dan sebagainya. Morfem terikat adalah adalah morfem yang terlebih dahulu bergabung dengan morfem lain untuk dapat digunakan dalam penuturan. Misalnya, ter, ber, me, dan sebagainya.
b) Morfem utuh dan morfem terbagi. Morfem utuh adalah satu kesatuan yang utuh. Semua morfem dasar, baik bebas maupun terikat, serta prefiks, infiks, sufiks termasuk morfem utuh. Misalnya, jenis, ber, pasti, dan sebagainya. Morfem terbagi adalah morfem yang fisiknya terbagi atau disisipi morfem lain. Misalnya, pe-an, ke-an, per-an, dan sebagainya.
c) Morfem dasar dan morfem afiks. Morfem dasar adalah morfem yang dapat menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Misalnya, beli, jual, kampung, motor, dan sebagainya. Morfem afiks adalah morfem yang tidak dapat menjadi dasar, melainkan hanya sebagai pembentuk. Misalnya, me, -kan, pe-an, dan sebagainya.
d) Morfem segmental dan morfem suprasegmental. Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, yakni morfem yang berupa bunyi yang dapat disegmentasikan. Misalnya, ter-, sikat, dan –lah. Morfem suprasegmental adalah morfem yang terbentuk dari nada, tekanan, durasi, intonasi. Dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan, tetapi dalam bahsa China, Thai, dan Burma dapat kita dapati.
e) Morfem wujud (nyata) dan morfem tanwujud (tidak nyata). Morfem wujud adalah morfem yang secara nyata ada. Dan morfem tanwujud adalah morfem yang kehadirannya tidak nyata. Morfem ini tidak ada dalam bahasa Indonesia tetapi ada dalam bahasa Inggris.
f) Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal. Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren yang telah memiliki makna. Semua morfem dasar. Misalnya, jual, beli, makan, pulang, pergi, dan sebagainya. Morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem yang secara tidak langsung tidak dapat digunakan dalam penuturan. Misalnya, morfem afiks: ter-, ber-, ke-, dan sebagainya.
4.      a) Afiksasi :
               
*    Berbaju,
*    Menemukan,
*    Ditemukan,
*    Jawaban, dan sebagainya.
b) Reduplikasi :
*    Berbulan-bulan,
*    Satu-satu,
*    Seseorang,
*    Compang-camping,
*    Sayur-mayur, dan sebagainya.
c) Komposisi :
*    Sapu tangan
*    Rumah sakit